Jumat, 08 Agustus 2014

Akhirnya.. satu tulisan tentang cinta.



Tetes embun datang dan mulai membasahi
Tersadar aku, kini hari sudah berganti
Tapi ada satu yang tidak pernah bisa berhenti
Rasa ini.

Entah sudah berapa lama terpendam.
Entah sudah berapa kali juga ia menjadi penghuni hati
Rasa ini.
Cinta.
Apa hanya aku yang memiliki?

Aku ingin menjadi hujan yang menyejukan
Aku ingin menjadi pohon besar yang melindungi
Aku.. ingin menjadi apapun yang kau cari setiap pagi
Dan yang menemanimu sepanjang hari

Aku ingin mencintaimu seperti pelangi yang mencintai hujan
Seperti bulan bintang yang mencintai malam
Seperti keyboard laptop usangku yang mencinta jari jemari..
Andai saja bisa
Aku ingin menjadi satu satunya alasan mengapa kau ada

Tapi,
kau takkan pernah bisa kumiliki
betapapun inginnya, aku tetap tidak bisa
aku masih bisa melihatmu dengan jelas
bahkan aku masih bisa menggapai dan menyentuh senyummu
tapi dari imajinasi dan pejaman mata ini
dari sini.
Hanya dari sini.

Sebentar lagi aku pergi
Memulai hari ini, dan menyelesaikannya lagi
Dengan benak yang selalu menanti
Akankah kita bertemu lagi.
Selamat pagi, cinta.

Jumat, 11 April 2014

Hujan

Aku ini adalah penggemar hujan..
Tidak peduli ia deras dengan ganas,
Atau hanya gerimis yang mengalir. Seolah jatuh.
Aku tidak begitu menggemari air.
Aku hanya menggemari hujan.
Jangan bertanya kenapa, aku tidak akan memberitahumu.
Biar saja..
Kalau aku beritahu, nanti kamu pun ikut ikutan menggemari hujan.
Oke, oke, jangan desak lagi!
Aku akan membertahu!
Tidak ada.
Tidak ada alasan apapun.
Hanya rasakan saja bisiknya.. rasakan bisik hujan, sampai pada teriakannya.
Ia sedang mengadu padamu.
Aku menggemarinya. Karena ia bisa begitu hidup. Begitu nyata.
Tidak seperti petir yang munafik. Kukira hanya kilatan yang datang, ternyata suaranya menggelegar kemudian.
Tidak seperti angin yang muncul, merusak, lalu sembunyi.

Minggu, 06 April 2014

Luka.



Wahai penatua..
Aku ingin bertanya.

Apakah ke-tidak-adil-an ini mempunyai akhir?

Jika tidak, maka berikan aku sedikit saja alasan yang pantas aku beri pada hati ini untuk bertahan menghadapinya.

Dan jika ya, apakah masih lama?

Wahai engkau para penasihat, para pemuka agama.

Bolehkah aku mencemburui angin? Yang tidak tersakiti oleh panas matahari, dan tidak hilang disapu hujan?

Wahai ibu..

Aku sedang terluka..

Sakit sekali sampai mau mati rasanya.

Bolehkan aku pinjam kekuatanmu, ibu? Mungkin tidak sekuat angin. Tapi mungkin cukup kuat untuk membalut setiap luka.

Hai, ayah..

Aku sedang menangis.

Meraung-raung, terisak hebat.

Berisik sekali sampai tak sedikitpun dapat terdengar.

Bisakah kiranya ayah melihat hati ini?

Sudah terlalu besar lubangnya..

Tapi masih cukup untuk menampung sakit. Mungkin, tapi tidak akan lama.

Jumat, 07 Februari 2014

Rumah Ibu..

Aku menghela nafas entah untuk ke berapa kalinya..
Hanya hal ini yang membuat aku yakin.
Yakin akan adanya ketenangan dalam diri penuh sesak.
Yakin nyawa ini masih tetap ada pada tempatnya.
Disini..

Mataku memandang jauh..
Tapi tak ada satupun penglihatan yang dapat ku tangkap.
Otak ku tidak bekerja walau hanya untuk sekedar mengartikan pandanganku..
Akupun menutup mata,
Mencoba berfikir bagaimana caranya meneruskan hidup.
Dan tanpa harus musnah..
Mulai dari sini, dari tempat ini.

Tempat ini tidak pernah membunuhku atau mengusikku.
Tidak juga walaupun hanya sekedar berbisik..
Tapi tempat ini mengingatkan aku padamu.
Engkau yang selama ini menyiksa aku dengan kebaikan dan ketulusan.
Engkau yang membuatku rindu akan kasih..
Tangis dan tawa seperti cat dinding bagi rumah ini.
Kehangatan disini tidak terganti, meski terkadang panas menyeruak dari sini.
Itupun pasti karna ulahku. 
Disini, Tempat ini..
Rumahmu Ibu..
Rumahku.
 



 
 

 

Rabu, 08 Januari 2014

entah.. tapi apa salahnya menulis?

apa salahnya jika badan ini basah..
 hujan yang menerpamu itu tidak akan membuat jiwamu hilang bukan?

apa salahnya mengotori diri sendiri?
tidak ada yang seperti kamu disini..
tidak ada yang bisa menjadi dirimu.. merasakan sakitmu, merasakan hidupmu.

mereka hanya punya indera untuk tahu dirimu.. tentangmu.
tapi indera untuk mengerti? tidak.
mereka tidak punya..
sekalipun punya, mereka tetap tidak mau..

apa salahnya berjalan memasuki lubang hitam?
tidak ada yang tahu kemana lubang itu berakhir bukan?
mengapa mereka bisa dengan mudahnya meragu?

apa Tuhan ragu saat menciptakan kita?
setitik kecil penuh dosa. penuh amarah.
apa salahnya bertanya?
meski tidak ada yang mendengar.
tidak ada yang menjawab.
tidak ada.. yang peduli.